LazuardiNews -Lereng
Gunung Gede longsornya turun dan menjalar ke bawah hingga berjarak sekitar 1,5
kilometer. Longsorannya membentuk timbunan-timbunan dan di beberapa titik tidak
merata. Tepat di bawah lereng adalah area persawahan serta permukiman.
Tingginya bervariasi, ada yang 10 meter, 20 meter hingga 30 meter. Terutama di sektor A yang berada paling dekat dengan lokasi titik awal bencana. Sedangkan luasnya mencapai hampir 15 hektare.
Sejak hari pertama pencarian tepat usai peristiwa terjadi, tiga orang dalam keadaan meninggal dunia ditemukan, masing-masing adalah Katemi, Iwan dan Sunadi.
Katemi dan cucunya Iwan ditemukan pada Minggu (2/4), sedangkan Sunadi ditemukan keesokan harinya. Ketiganya ditemukan di posisi sektor C yang menjadi titik paling jauh dari titik awal.
Selanjutnya, hingga enam hari sejak kejadian atau Kamis (6/4), belum ditemukan satupun korban jiwa lainnya. Tingginya timbunan tanah menjadi satu kendala, ditambah cuaca yang tidak menentu dan kerap hujan.
"Untuk peralatan mungkin tidak kendala, kecuali cuaca. Ada sembilan eskavator di lokasi dan semuanya bekerja maksimal," ucap Catur yang juga Komandan Rayon Militer Kecamatan Kota, Ponorogo.
Kondisi tanah di lokasi juga masih labil dan rawan sekali terjadi longsor susulan. Meski dalam skala kecil, namun timbunan tentu akan membuat petugas dan relawan yang berada di bawah khawatir.
"Perasaan khawatir pasti ada mas. Apalagi petugas di alat berat yang berada di tepi-tepi timbunan. Kalau salah bergerak bisa berakibat fatal," tutur salah seorang relawan yang enggan disebutkan namanya.
Ia juga sempat beranalisa, salah satu kendala sulitnya menemukan jenazah adalah posisi korban saat sebelum kejadian yang berpencar, termasuk saat lari menyelamatkan diri.
"Peristiwanya terjadi saat warga beraktivitas, berbeda jika malam hari yang mana warga berada jadi satu di rumah, persis dengan bencana di Jombang dulu," ujarnya.
Upaya lain untuk menemukan korban yakni dengan mendatangkan tujuh anjing pelacak dari Mabes Polri dan Polda Jawa Timur.
"Anjing pelacak yang diturunkan itu sangat membantu dalam proses pencarian korban longsor," kata Direktur Sabhara Polda Jatim Kombes Pol Achmad Rudi Mulyanto.
Jika anjing pelacak mencium bau manusia di dalam timbunan tanah maka segera diberi titik untuk selanjutnya dicari menggunakan alat berat.
Meski satwa yang diturunkan di lokasi ini pernah berhasil menemukan bangkai manusia di musibah Aceh, kata dia, proses terkendala timbunan longsor yang sangat dalam.
Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengakui upaya pencarian korban hilang tertimbun longsor sulit karena faktor ketebalan material tanah serta luasan area terdampak yang menimbun 32 rumah.
Orang nomor satu di Pemkab Ponorogo itu tak mau sikap realistisnya tersebut diterjemahkan sebagai pesimistis.
"Bukan pesimistis ya, tapi bagaimanapun kami harus jujur juga bahwa ketiggian di Zona A lokasi pencarian paling atas atau titik nol itu diperkirakan ada delapan rumah dengan ketebalan tanah mencapai 30 meter," ucapnya.
Kendati upaya pencarian akan terus dilakukan, Ipong menyatakan perkembangan bakal dievaluasi pada akhir masa pencarian yang ditetapkan selama tujuh hari, terhitung mulai Minggu (2/4) hingga Sabtu (8/4).
"Selain itu, kami juga akan melakukan koordinasi atau konseling dengan keluarga korban. Kalau mereka masih menginginkan untuk terus dicari dan hasil evaluasi memungkinkan, pencarian akan dilanjutkan hingga tujuh hari lagi," tukasnya.
Namun, apabila hingga akhir pencarian periode kedua korban belum diketemukan semuanya, pemerintah daerah akan merekomendasikan penghentian pencarian kepada BPBD dan tim SAR gabungan.
"Saya rasa kami akan mempertimbangkan itu jika hingga perpanjangan masa pencarian tetap tidak membuahkan hasil maksimal," imbuhnya. (Dilansir dari ANTARA News)

0 comments :
Post a Comment